Banyak orang tertarik dengan network marketing. Mereka membayangkan penghasilan tambahan, jaringan yang terus berkembang, serta fleksibilitas waktu. Namun begitu mulai menjalankannya, muncul pertanyaan yang sama: “Saya harus mulai dari mana?”Lalu datanglah daftar aktivitas yang panjang: mencari prospek, menghubungi teman, presentasi, follow-up, mengajak orang ke BOP, Info Night, pertemuan tim, dan seterusnya. Jika calon prospek tinggal jauh, semuanya terasa lebih berat. Aktivitas yang awalnya terlihat sederhana berubah menjadi melelahkan.
Bagi pemula, semangat yang tadinya menyala-nyala sering kali padam perlahan.Masalahnya bukan malas. Sistemnya yang terlalu bergantung pada aktivitas manual.Bayangkan seorang pemula. Siang hari bekerja atau kuliah. Sore baru punya waktu. Malam harus bertemu calon prospek yang lokasinya jauh. Macet di jalan. Sampai di tempat, calon prospek belum datang. Setelah bertemu, jawabannya: “Masih ingin berpikir.” Besok harus follow-up lagi. Lalu ada BOP, Info Night, pertemuan tim—yang sering mulai lebih lambat dari jadwal.Waktu habis bukan karena bisnisnya sulit, melainkan karena prosesnya tidak efisien. Belum lagi biaya bensin, parkir, makan, dan opportunity cost—waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk hal yang lebih produktif. Jika ini menjadi rutinitas setiap minggu, lama-kelamaan muncul pertanyaan: “Memangnya bisnis harus selalu seperti ini?”
Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini




